Foto: Njoto adalah ketua Biro Agitasi dan propaganda PKI.
SURABAYA, SATUSUARA - Namanya Njoto. Orangnya kurus, kerempeng, berkacamata dan pendiam. Dia wakil ketua II PKI. Aidit, Njoto, dan Lukman adalah triumvirat PKI. Tiga pucuk pimpinan utama PKI.
Orang tak akan pernah menyangka bahwa dibalik tubuh kurusnya terdapat pemikiran bengis. Dia memang tidak pernah menumpahkan darah secara langsung lewat tangannya, tapi lewat otaknya. Tangannya tak pernah memegang parang ataupun arit untuk membantai, tapi tulisan tangannya mampu menggerakkan pembantaian.
Njoto adalah ketua Biro Agitasi dan propaganda PKI. Dia memimpin koran Harian Rakyat. Sebuah koran corong komunis di Indonesia. Dia juga yang membentuk Lekra, sebuah organisasi kebudayaan milik PKI. Lewat besutan tangannya, Lekra menjelma menjadi organisasi budaya yang mampu membungkam lawan-lawan politiknya.
Njoto adalah seorang yang jenius. Tipe seorang pemikir berdarah dingin. Dia juga seorang seniman dan musikus. Mampu meniup saksofon dengan baik. Serta berbagai alat musik lainnya.
Laki-laki kerempeng itu menjadi salah satu otak utama PKI di negri ini. Tulisan tangannya mampu menggerakkan palu arit bergerak mencari korbannya. Njoto bersenjatakan pena. Senjatanya lebih tajam daripada senjata para jagal di lapangan.
Tulisan Njoto di koran Harian Rakyat sangat dijiwai komunis. Karena dia memang seorang komunis sejati hingga akhir hayatnya. Seorang ideolog sejati. Seorang penganut komunis hingga tulang sungsumnya.
Tahun 1950-an, Njoto dan Aidit menjadi darah baru dalam tubuh PKI. Anak-anak muda ini menggantikan posisi kepemimpinan PKI kaum tua. Mereka berhasil membersihkan diri, cuci tangan nama baik PKI dari kasus pemberontakan PKI tahun 1948.
Pembantaian yang memakan ribuan nyawa itu seolah dilupakan begitu saja. Semua itu berkat kepiawaian tokoh muda, salah satunya Njoto membersihkan nama baik PKI. Melalui tulisan tangannya yang tajam, Njoto mampu membangun image bahwa PKI tidak bersalah. Dia memutar balik fakta.
PKI kembali mengalami masa kejayaan dibawah kepemimpinan triumvirat ini. Otak-otak mereka bekerja sedemikian rupa menyusun strategi jitu. Akhirnya di tahun 1960-an mereka menjadi kekuatan politik besar nomer empat di negri ini. Luka berdarah mereka seakan hilang begitu saja. Orang-orang seakan melupakan kekejian pemberontakan mereka.
Mereka mendapat angin segar karena Soekarno menganut Nasakom. Bahwa komunis dibiarkan hidup demi pemikiran Soekarno yang ingin menggabungkan tiga elemen yaitu nasionalis, agama, dan komunis dalam kehidupan bernegara. Ide besar Nasakom Sang Bung Besar menjadikan PKI diberikan ruang politik. Bahkan semakin hari semakin tumbuh subur. Puncaknya adalah pemberontakan G30S PKI.
Saat pemberontakan G30S PKI gagal, Aidit langsung melarikan diri ke Jawa Tengah. Bersembunyi di kota-kota basis PKI. Dia bersembunyi di Semarang, Solo, Boyolali. Hingga akhirnya dia dieksekusi di sebuah sumur tua Boyolali. Aidit mati ditembak tentara. Sebelum dieksekusi, Aidit sempat pidato berapi-api tentang komunisme. Pidatonya terhenti begitu timah panas mengenai tubuhnya. Dia pun jatuh ke sebuah sumur tua. Di sumur itulah jasadnya dimakamkan.
Sedangkan Njoto yang saat itu menjabat sebagai menteri, tetap berada di Jakarta. Bahkan dia pernah ikut sidang kabinet. Dia merasa dekat dengan Soekarno, selama ini sering menulis pidato kenegaraan Soekarno. Makanya dia percaya diri tetap di Jakarta.
Njoto bahkan terlihat pongah. Dia merasa otaknya yang cerdas mampu meloloskannya dari tanggung jawab pemberontakan G30S PKI. Dia merasa tidak bersalah.
Tapi dugaan Njoto salah. Aidit sudah mati ditembak di Boyolali. Tak berapa lama kemudian Njoto juga ditangkap. Disebutkan sebelum menjelang eksekusinya, Njoto menyenandungkan puisi komunis. Sebuah bukti betapa Aidit dan Njoto menjiwai komunis hingga akhir hayatnya.
Njoto, lelaki kerempeng ketua Biro Agitasi PKI itu telah pergi. Meninggalkan pemikiran komunis yang tiada pernah mati. (Red)
